
Sewaktu saya ke mal deket rumah (Java Mall namanya[dan sudah sering]), saya pasti ada perasaan yang mengganjal ke sini. Pertama, ini mal belum kelar renovasinya apa bekas bangunan mangkrak? Kedua, pengelola mal ini merelakan sebagian besar area malnya untuk dijadikan toko baju (aneh bin ajaib). Ketiga, ada beberapa bagian mal yang tidak terawat. Seperti di tangga masuk mal kalau dari parkiran belakang. Lantainya yang bagus eh malah nggah dibersihin (sudah bertahun-tahun lamanya). Namanya juga mal rakyat (deket perumahan sih). Tapi, pengunjungnya ya nggak sedikit. Saya sempat berpikir, ini mal apa gudang baju ya?
Kaihan yang punya toko. Sudah menggelar dagangannya eh malah gulung tikar (bangkrut). Java Mall sendiri sering dijadikan tempat nongkrong bagi anak sekolahan (yang masih pake seragam juga ada).
Ini tulisan tampaknya mengulas kenangan masa kecil saya. Saat saya masih duduk di bangku TK, kakek saya membangun sebuah kolam ikan yang berada di belakang rumah. Isi dari kolam tersebut adalah ikan gurame. Di atasnya digantung beberapa pot-pot berisi bunga anggrek. Setiap hari, ikan gurame diberi makan hingga besar. Apalagi, setiap sore saya sempatkan untuk melihat ikan. Tapi sekarang, kolam tersebut sudah menjadi puing (seperti yang terlihat di foto). Bukannya hancur karena dibom, tapi kolam tersebut dihancurkan oleh para tukang untuk dijadikan gudang. Ikannya? Ya tentu saja dibagikan ke orang lain dan beberapa dimasak untuk sendiri. Saya nggak tega untuk memakannya. Selamat tinggal kolam ikan beserta isinya.
Saya contohkan di sini. Untuk tampilan
Wordnya, banyak yang berubah terutama Formatting. Di Office 2007 ini, semua menu dan toolbar langsung ttp (tu the poin). Menu Filenya hilang, bukan. Justru lebih komunikatif. Gantinya menu file klik aja logo Office di pojok kiri atas. Office 2007 juga punya format penyimpanan baru (tentu saja hemat memori). Bayangkan, sebuah dokumen Word dengan format baru (yaitu .docx) disimpan dengan ukuran 18kb, sedangkan untuk format lama (.doc) cukup dengan ukuran 34 kb. Wah, turunnya lumayan besar. INGAT, FORMAT BARU OFFIC
E 2007 TIDAK BISA DIBUKA DI OFFICE SEBELUMNYA.Apalagi, Excel sekarang lebih mudah. Memasukkan formula cukup klik menu Formulas dan pilih jenis formula yang Anda inginkan. Begitu pula dengan PowerPoint. Pilih Themes gampang banget. Silakan coba Office 2007 ini, file hemat memori tapi program rakus memori.
Wah, tampaknya saya ke Taman Safari di waktu yang tepat ya. Soalnya, saya ke Taman Safari yang ada di Bogor saat hari kerja (tepatnya hari Rabu kemarin). Untuk tiket masuknya saja hampir sama seperti saya ke Kidzania (membuat kejang). Untungnya, dapet diskon. Setelah masuk, saya melihat banyak sekali jenis satwa yang “dikomersilkan” di sini. Ada zebra, gajah, harimau, singa, badak angop, dkk. Ada juga orang yang memberi makan ke si satwa. Tentu saja, setelah makanannya habis, si satwa mengejar si pemberi makan. Saya juga mengabadikan satwa-satwa di sini dengan barang bernama kamera. Huff. Saat saya masuk ke area satwa “ganas”, jendela dan pintu mobil langsung dikunci. Harimau dan singanya sedang tidur. Langsung saya ambil fotonya. Ada juga beruang (tentunya yang bukan dari kutub). Beruangnya sedang mandi. Setelah selesai safari mobil, saya dan keluarga langsung makan di restoran safari yang bernama Rain Forest (selanjutnya saya sebut Restoran Safari).
Kalau Anda ingin ke Taman Safari bersama keluarga, sebaiknya Anda harus membawa bekal sendiri (kalau bisa bawa rantang dan rice cooker). Pasalnya, di restoran tersebut, harga makanannya sangat menguras kantong Anda cukup dalam. Kalau nasi timbel di sini 9000, di restoran safari bisa 2x lipat. Yo mesti, pasar kan jauh dari Taman Safari. Soal rasa, hmmm, nggak kalah sama restoran yang di kuthane dhewe. Restoran Safari paling banyak dikunjungi sama orang Arab dan sebangsa Bule. Setelah kenyang, saya coba naik gajah bersama adik sepupu saya. Dan adik sepupu saya mencoba memberi makan si Gajah.
Selanjutnya saya masuk ke Istana Setan. Yah, cukup untuk mendebarkan jatung. Lalu, saya dan keluarga mencoba naik Kereta Gantung. Agak serem juga (kalo jatuh wah gawat). Kita bisa melihat area hiburan di Taman Safari dari atas. Kereta gantungnya aja sudah kuno (bahkan ada kursi yang rusak). Saya coba memotret beberapa bagian dari Taman Safari. Alhamdulillah, kereta gantung “mendarat” dengan sempurna. Selesailah saya berwisata ke Taman Safari yang HTM-nya aja membuat saya kejang.
Nih, saya mencoba mengulas rumah makan yang ada di Jakarta. Ada yang porsinya seupil tapi murah dan ada juga restoran Vietnam yang sepi di hari biasa
Rumah Makan D'Cost yang letaknya saya lupa (maklum bukan orang Jakarta) yang pasti rame dan penuh dengan anak-anak muda (harganya murah sih). Tetapi, bagi Anda yang belum pernah ke sini jangan heran. Pasalnya, bila rumah makan ini penuh, Anda harus menunggu paling lama sampai orangnya keluar selesai makan (pastinya Anda dapat mati kelaparan saat menunggu). Setelah itu, silakan duduk. Ketika Anda melihat menunya, harganya pasti murah dan Anda kira porsinya pas untuk perut Anda (foto di menu menipu Anda). Saya dan keluarga memesan nasi goreng, udang mayonaise, kepiting, gurame bakar, dan minuman (air putih). Setelah makanan itu datang, Anda akan mangap (mulutnya terbuka) dan tercengang. Nasi goreng hanya segenggam tangan, guramenya yang ukuran sedang, udang dan kepitingnya apalagi. Kalau minum ukuran normal. Huh,keluarga saya sempat pesan 2 nasi goreng (dirasa belum mengenyangkan). Apalagi jika Anda naik mobil ke sini, jangan heran. Tiba-tiba saat Anda makan, seorang satpam datang untuk menyuruh Anda memindahkan mobil agar yang sudah selesai makan dapat keluar dengan leluasa. Otomatis, selera makan hilang.
Berikutnya, di Chopstix Pondok Indah Mall (spesialis makanan Vietnam). Jika datang saat hari kerja Anda pasti akan berpikir kalau rumah makan ini nggak laku. Justru sebaliknya. Rumah makan ini laku saat weekend saja. Keluarga saya memesan menu yang simple, lumpia (padahal khas Semarang [kuthane dhewe]), nasi goreng, sayur, dsb. Hmmm,rasanya oke. Memuaskan perut dan lidah. Untuk harga, tidak menguras kantong dalam-dalam lah. Pas di kantong, pas di lidah. Ingat, mungkin kalau rumah makan selain mementingkan untung, mereka juga mementingkan makanan yang dimakan si pelanggan habis (alias piring kinclong). Kalau sampai habis, itu artinya makanan itu enak rasanya.
Ada 2 shift di sini. Untuk hari biasa, shift pertama pukul 09.00-14.00, shift kedua pukul 15.00-20.00. Waktunya sama kalau kita nonton film yang berdurasi 2 jam sebanyak 2 kali dan nongkrong di kafe 1 jam. Harga tiketnya aja juga membuat saya kejang (harga dibedakan menurut umur. Contoh, untuk anak-anak usia 4-13 tahun bayar 110 ribu, kalo weekend dan hari besar tinggal ditambah 40 ribu alias 150 ribu. Nah kalo 4 anak di hari Sabtu totalnya 600 ribu. Itu kalau saya cukup untuk beli flasdisk 128 MB 5 dus. Termpat ini terkesan seperti untuk anak wong duiten. Saya kebagian yang shift ke-2. Saat masuk, Anda akan dipasang sebuah gelang yang berfungsi sebagai pengganti ID dan cek. Nanti, cek itu ditukar untuk keperluan di sana. Mata uangnya bernama KidZos. Ceknya tadi senilai 50 Kidzos.
Pukul 15.00 tiba. Semua karyawan yang ada di dalam menari dan bernyanyi mars Kidzania. Para pengunjung mengira karyawan tersebut lagi sakit jiwa (nggak dibawa ke RSJ). “Bank” mulai penuh karena banyak anak mencairkan “cek” senilai 50 KidZos tersebut. “ATM”-nya juga ada dan mesinnya betulan. Pertama kali saya pergi ke “Painting School”. Untuk masuk arena dan keluar arena kita harus discan. ID-nya ya yang ada di gelang. Kalo kerja tugasnya gampang, cukup mewarnai gambari yang disediakan. Setelah selesai, anak-anak diberi “gaji” 8 Kidzos (semua arena yang bisa kerja gajinya sama). Kedua saya mencoba jadi apoteker. Memang, KidZania tempat yang tempat untuk mempromosikan barang dagangan. Misalnya, kalau di apotik “Kalau sakit minum Stimuno ya”. Tugasnya meracik obat dan ada yang jadi kasir.
Berikutnya, saya ke tempat pembuatan lolipop. Saat antri, ada anak yang dia anggap dia anak yang paling sugih. “Mau apa kamu, saya sudah 4 kali ke sini,” tutur sang anak dengan nada tinggi. Egois dan sombong banget ya. Saat masuk, kami disuruh memakai seragam, sarung tangan dan masker. Setelah itu, kita diajari membuat lolipop. Lolipopnya ya bawa pulang. Wah, kalo di Kidzania selain menghargai uang setelah bekerja sesuai cita-cita, kita juga harus bisa sabar dalam mengantri permainan yang ada di sana. Sistemnya role play (gantian).
Setelah itu saya ke “stasiun tv”. Untuk menentukan profesi di “studio”, diundi dulu siapa yang jadi. Untungnya saudara saya dan saya masuk ke depan kamera (tampil di tv). Wah seru banget deh. Saudara saya jadi presenter. Baca aja belum lancar, masa’ baca Kidzania jadi Kidzina. :-). Tak terasa waktu cepat berlalu. Banyak permainan yang belum saya coba. Apalagi, sampe Kidzania ditutup, saya belum puas. Maklum, baru pertama kali. Apalagi, orang tua yang nunggu anaknya main di Kidzania sampai teler. Untuk info lebih lanjut kunjungi websitenya Kidzania disini
Kami kira soalnya keluar dari LKS semua.
Ternyata, dugaan kami salah besar.
Uraiannya aja disuruh membuat ringkasan cerita epos Ramayana. Ndase munyeng tho. Yang pinter yang bodo sama-sama nggak bisa. Ya sudah, marilah kita merefleksikan pikiran kita. Trompet bukan makanan tahunan saat malam tahun baru. Yang penting kita instropeksi. Apa kesalahan kita di tahun 2007 ini. Kalau tahun 2007 ini, saya anggap tahun 2007 ini adalah tahun penuh cobaan. Oke, semoga di tahun yang baru ini kita dapat menghadapi semua cobaan terutama “perang soal” yang masih berlanjut sampai tanggal 5 Januari dengan lancar dan successful. Amin. Sekian catatan refleksi awal tahun dari saya.
© Copyright Catatan Si Ghamdan. Semua hak cipta dilindungi
Didesain oleh FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
brought to you by Smashing Magazine






