• Home
  • Catatan Si Ghamdan on WP
  • Posts RSS
  • Comments RSS
Blue Orange Green Pink Purple

Sekapur Sirih

"Bekerja untuk meraih yang terbaik akan menimbulkan motivasi, tetapi bekerja untuk meraih kesempurnaan akan menimbulkan frustasi."

Ekspedisi Lawang Sewu Malam Hari

191020094915-1

(Lawang Sewu di siang hari, [19/10/2009])


Judulnya nggak salah tulis kok. Bagi Anda yang belum mengetahui apa itu Lawang Sewu ini saya berikan sekilas infonya. Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Semarang yang terletak di seberang Monumen Tugu Muda dan terkenal akan banyaknya pintu di bangunan ini.. Bahkan, hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai jumlah pintu yang pasti. Setiap ada orang yang menghitung jumlah pintu, hasilnya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya bangunan ini disebut Lawang Sewu. Selain itu, bangunan milik PJKA ini terkenal akan keangkerannya. Walau saat pemerintahan kolonial Belanda digunakan untuk kantor kereta api, konon, di Lawang Sewulah pembantaian para pribumi terjadi selama masa penjajahan Jepang.

Oke, kita beralih ke pokok cerita. Saya bersama teman-teman 9A Rockstar setelah acara berbuka puasa (sekaligus reuni) saat puasa Ramadhan 1430H yang lalu, berencana menjelajahi Lawang Sewu. Saya pun dengan senang hati menyanggupi karena saya sudah tidak mengunjungi Lawang Sewu selama 6 tahun. Jujur saja, menjelajahi Lawang Sewu di malam hari baru kali ini saya lakoni.

PIC_0815

(Sang penulis [tengah berkacamata] bersama teman-teman Rockstar saat buka puasa bersama)


Dengan mengendarai sepeda motor dari Waroeng Steak di bilangan Imam Bonjol (belakang rumah kedua sang penulis) menuju Lawang Sewu hanya membutuhkan waktu kurang lebih hanya 3 menit. Sang penulis karena tidak punya kendaraan sendiri (baca: sepeda motor) terpaksa nebeng. Otomatis, karena tidak punya sepeda motor, sang penulis tidak mempunyai helm. Alhasil, sang penulis meminjam topi kepada Acong. Untung tidak ada polisi sepanjang jalan.

Akhirnya, sampai juga ke lokasi “penjelajahan”. Dalam benak saya, Lawang Sewu itu hanya ramai pada musim liburan saja. Ternyata eh ternyata, malam minggu pun juga ramai bak pasar malam. Simpang Lima pun kalah. Selain Lawang Sewu, Monumen Tugu Muda yang ada di seberang Lawang Sewu juga dibilang sangat ramai. Kebanyakan orang-orang (terutama muda-mudi) memanfaatkan waktunya untuk narsis dan nongkrong. Sebelum kami memasuki Lawang Sewu, kami menyempatkan diri untuk berfoto ria.

PIC_0841

PIC_0833

(Foto-foto dulu sebelum masuk)


Karena Agra sudah janjian dengan pacarnya untuk mengikuti “ekspedisi” ini, maka Agra dengan motornya lari tunggang langgang untuk menjemputnya di sekitar Java Mall. Tak terasa 45 menit telah berlalu. Sebagian dari kami dengan tanda kutip kesal dan berinisiatif melakukan ekspedisi tanpa Agra. Akhirnya orang yang kami tunggu-tunggu dan yang dirasani datang juga.

Karena masuk Lawang Sewu juga ada HTM-nya (biaya untuk membayar guidenya), maka kami urunan masing-masing 5000 rupiah. Sebelum masuk, saya sempat mendengar cerita (bisa dikatakan mitos) dari salah satu teman saya bahwa jika seseorang yang sedang datang bulan tidak diperkenankan memasuki Lawang Sewu. Beberapa dari kami (tentuntya yang kedatangan si bulan) sempat takut (pada akhirnya mitos tersebut tidak terbukti!). Pukul 20.00 tepat, kami memulai ekspedisi kami.

Guide kami pun menyarankan untuk bergandengan tangan agar tidak kesasar. Begitu masuk ke Lawang Sewu, terlihat perlengkapan tukang. Ya. Karena Lawang Sewu dalam tahap pemugaran dan rencananya akan dijadikan kantor PJKA yang semula berlokasi di Jl. MH Thamrin. Sayang, kami pun tidak dapat melewati bagian Lawang Sewu yang ada kaca mozaiknya yang indah.

PIC_0847

(Salah satu sudut di lawang sewu)


PIC_0851

(Salah satu ruangan yang tampak “belum” terawat)


PIC_0852

(Romongan selalu stay close agar tidak kesasar)


Kini, guide mulai memberikan pemahaman kami tentang beberapa ruangan dan sudut yang ada di sekitar . Dari sini terlihat agak jelas Tugu Muda (walau hanya pucuknya). Ekspedisi dilanjutkan kembali. Dengan berbekal 2 senter, kami masih merasa takut. Pencahayaan senter tampaknya kurang cukup untuk menemani kami. Bahkan, sang penulis pun juga merasa agak takut. Beberapa dari kami memegang tas sang penulis agar tak kesasar.

PIC_0854

(Sang guide saat sedang menjelaskan sesuatu)


Saat kami melewati sebuah gedung yang luasnya agak sempit dan besar, kami mencoba bertanya apakah itu. “Itu merupakan gedung WC”. Ya, orang-orang Belanda dulu membangun sebuah bangunan dan WC-nya itu pasti dipisah agar tidak terkesan jorok. Kini, kami mulai putar-putar. Melewati banyak anak tangga. Perasaan bingung dan agak takut pun muncul

“Tunggu, jalannya jangan diseret.”

“Lho, kenapa?”

“Bleduknya itu lho kemana-mana”.

PIC_0855

PIC_0856

(Banyak sekali tangga yang harus kami lalui)


Akhirnya, kami sampai di lantai 3 atau lantai teratas. Kami diajak ke sebuah ruangan. Di sini terdapat fondasi atap yang terbuat dari besi yang terkena peluru saat Pertempuran 5 Hari.

“Coba kalian lihat, di situ ada darah.”

“Mana...?”

“Itu”

“HAAA...AAAAAAAA”

“Tenang, itu darah bo’ongan kok. Itu bekas syuting dulu-dulu. “

Memang, Lawang Sewu sering dijadikan para sineas sebagai setting dalam film mereka. Film yang bersettingkan di Lawang Sewu antara lain Merah Putih, KCB, dan AAC. Setelah itu, kami pun diajak ke atap pemandangan. Betul. Kami dapat melihat Tugu Muda sangat jelas dan indah. Seketika itu juga, kami menyempatkan untuk berfoto ria.

PIC_0866

(Sang penulis [2 dari kiri] berfoto bersama sebagian teman-teman dengan latar belakan Tugu Muda)


Setelah puas foto-foto, kami diajak ke sebuah ruangan yang sangat besar.

“Dulu, pas jaman Belanda digunakan untuk acara makan-makan. Tapi, di saat Jepang digunakan sebagai kamar pembantaian atau kasarnya disebut kamar penyembelihan.”

Wow. Karena tak ingin lama-lama, selain agak takut juga pengap, maka kami langsung turun. Turunnya dengan tangga yang unik. Gude menyebutnya “tangga titanic”. Tangga semacam ini saya pernah lihat di film Indiana Jones jilid 3 saat Indiana di perpustakaan di Italia.

PIC_0869

(“Tangga titanic” yang tampak karatan)


Ekspedisi dilanjutkan menuju ke sebuah lorong. Tetapi di tengah ekspedisi, guide berkata “Itu kamu bisa lihat Carrefour dengan jelas. Tuh ada orang bawa trolinya.” Mungkin di Indonesia, tepatnya di Semarang, kita bisa menjumpai Carrefour di sebelah bangunan cagar budaya. Akhirnya kami sampai di lorong tersebut. Lorong ini namanya aku lupa. Tetapi ini bagian lorong yang sangat angker di sini, katanya.

“Coba yang bawa rokok nyalakan rokoknya. Saya akan mempertunjukkan sulap.”

Seketika yang bawa rokok memberikan satu puntung rokok sekaligus korek api kepada guide. Rokok pun dinyalakan.

“Lihat apa yang terjadi. Rokoknya tiba-tiba terhisap dengan sendirinya.”

“Ini, coba kamu rasakan.”

Ragil pun penasaran dan mencobanya. Di tengah-tengah, Ragil batuk-batuk. Apa ini. Ini tadi kan rasa mentol, lalu “diubah” menjadi rokok kretek tanpa filter. Ooo...Ada penunggunya tho...Ya udah, rokoknya diiklaskan aja, ditaruh di sini. Ekspedisi pun dilanjutkan.

PIC_0870

(Lorong yang sempat menimbulkan tanda tanya besar)


Tak lengkap rasanya bila ke Lawang Sewu tidak berkeliling ruang bawah tanahnya. Karena sang penulis ada alasan tertentu yang kuat, maka dengan terpaksa ia tidak ikut ekspedisi ke bawah tanah. Nineteen dan Vina pun mengikuti jejak sang penulis. Bagi yang mengkuti ekspedisi ke bawah tanah, semua barang bawaan dititipkan dan diwajibkan memakai sepatu but yang telah dipersiapkan. Senternya pun lebih besar. Saatnya bagi mereka untuk ekspedisi. Sembari saya menunggu mereka, saya berbincang-bincang sedikit dengan guidenya. Dia mengatakan:

“Lawang Sewu itu menyaingi simpang lima sejak kurang lebih setahun yang lalu. Mungkin karena bosan dengan simpang lima, maka mencari obyek wisata yang menghibur. Tugu muda pun sama. Sehingga di sini (Lawang Sewu dan Tugu Muda) seperti pasar malam pindah”

Guide yang namanya saya lupa ini telah melakukan pekerjaannya sebagai guide baru 4 bulan, sebelumnya ia menjadi pengarah parkir di sebuah warnet di dekat rumah kedua penulis saat SMP.

15 menit sudah ekspedisi di ruang bawah tanah berakhir. Kesan mereka yang melakukan ekspedisi di bawah tanah: GELAP dan PENGAP!. Saat itu juga kami mengakhiri seluruh ekspedisi kami selama 1,5 jam di Lawang Sewu. Kami pun mengucapkan terima kasih kepada guidenya yang setia memandu kami hingga akhir ekspedisi. Jika PJKA bekerjasama dengan Pemkot melalui dinas terkait untuk memperhatikan betul potensi Lawang Sewu dan acara ekspedisi semacam ini dijadikan program wisata, pasti banyak pelancong yang akan datang dan tertarik untuk mencobanya.

Read More 0 komentar | ditulis oleh Wong Kutho edit post

GPLB 2009, "BUM!"

Mohon maaf kepada Anda karena saya postingnya agak telat 2 bulan karena saya disibukkan dengan tugas-tugas di sekolah yang anyar. Ya!

Rumah kedua sang penulis kini pindah dari semula di bilangan Brigjend Katamso menjadi di bilangan Pemuda, lebih tepatnya di depan Balaikota Semarang. Beberapa hari setelah hari pertama masuk sekolah pada tanggal 13 Juli, para siswa melaksanakan kemah tahunan untuk kelas X yang bernama GPLB. Pada tahun ini, kemah bertempat di sebuah perkampungan TNI di daerah Banyubiru, Ambarawa.

[ a u d i ]1218

(Sang penulis [tengah] bersama sebagian rekan-rekan kelas X-Olimpiade)


JUMAT, 31 JULI 2009 – HARI PERTAMA

Sebelum berangkat ke Banyubiru, seperti biasa para siswa tetap melaksanakan KBM. Berbagai benda dan siapa yang akan membawanya sudah dibahas jauh-jauh hari. Setelah pulang sekolah, sang penulis mulai megepak barang . Baru setelah jumatan, pukul 13.30 mulai menuju sekolah karena berangkat dari sekolah dilaksanakan pukul 14.00. Sesaat sampai di sekolah, saya agak bingung. Agak bingung karena yang akan berangkat terdiri dari 14 kelas. Wow. Saya mulai mencari bus kelas saya. Akhirnya ketemu. Ternyata, yang hadir sudah banyak. Tetapi sayang, 3 orang dari rombongan kami, yaitu Mahardika (Slim), Sangaji, dan Tita tidak dapat mengikuti kemah. Perbekalan dan peralatan kelas kami pun sepertinya paling pepak (outstanding) diantara kelas lain. Tak lupa berpamitan ke orang tua sebelum berangkat.


DSC04030

(Berpose dulu sebelum berangkat)


Pukul 14.00. Kami pun berangkat, Di sela-sela perjalanan, seperti pengalaman sang penulis sebelumnya, bus-bus antar kelas saling menyalip seperti di lomba balap agar cepat sampai tujuan. Tentu ini merupakan hal yang sangat berbahaya, tapi syukurlah tidak ada apa-apa. Sepanjang perjalanan, Yoga (Nonog), Reza (Bun), dan beberapa dari kami menyanyikan lagu “Tak Gendong” yang diplesetkan menjadi “Tak Jebret”. Apa artinya? Yang penting kami terhibur. Makanan yang melimpah ruah juga kami bagi-bagikan untuk orang satu bus.

Tak terasa 2 jam telah berlalu, sekitar pukul 16.05, akhirnya kami pun sampai juga di tempat tujuan. Ternyata, sudah banyak orang-orang yang menunggu kedatangan kami. Masalah pun tiba-tiba muncul. Siapa yang akan membawa logistik sebanyak ini (air mineral botol pun 3 dus jumlahnya). Akhirnya, kami semua bergotongan bersama. Jauhnya barak untuk rombongan pria tidak menyurutkan semangat (walaupun berat). Sepertinya, enakan barak perempuan karena begitu turun dari bus tinggal 5 langkah sudah sampai. Sang penulis akhirnya sampai juga di barak. Wow, keadaannya lumayan bersih. Kini saatnya istirahat dan dilanjutkan dengan upacara pembukaan. Pembukaan kemah dilakukan oleh Kepala Sekolah (atau kami x-olim menyebutnya “bapaknya Nonog”, memang betul). Selama upacara, kelas X-olim cukup membuat kehebohan dengan tertawa sepanjang upacara karena hal - hal yang bisa dibilang orang lain sebagai hal yang kurang bisa dinalar oleh orang biasa. Setelah upacara pembukaan, saatnya ishoma. Makanannya sudah cukup memenuhi 4 sehat 5 sempurna, tidak seperti saat saya di Desa Wisata, hanya mi rebus dan teh hangat. Terkadang, untuk menunggu waktu, beberapa dari rombongan putra menyambangi barak putri sekadar untuk meminta makanan

PIC_0688

(Semangat teman-teman sebelum lomba tarik tambang)


Acara pada malam ini adalah lomba tarik tambang. Nonog, Bun, Safira (Sapi), Putri Fajar (Puput), Gatya, Irham, Bayu, dan Yaris diajukan untuk menjadi tim tarik tambang x-olim. Ronde pertama, x-olim melawan x- 2. Ronde pertama dilalui dengan cukup berat dan dengan perjuangan yang cukup besar. Perjuangan itu pun membuat Nonog menarik tambang seperti orang sedang split.

PIC_0697

(Semangat juang 45 pun diterapkan di sini)

Akhirnya, kami pun menang dengan susah payah (baru ronde pertama lhoo...). Berikutnya, ronde kedua melawan X-8. Pada ronde kedua, tim tarik tambang X-Olim langsung main tarik. Memang, pas ini kami bermain dengan (cukup) kejam tanpa memberikan persiapan bagi lawan. Tapi, ini kan just game. Pada ronde ketiga kami akhirnya mengakui kehebatan X-3. Karena lawan langsung memberikan tarikan yang kencang sedangkan kami pun hampir loyo karena sudah 2 ronde dilalui. Tim X-Olim akhirnya terseret jatuh. Bahkan, Gatya pun mengalami luka lebam. Sapi mengatakan:”Aku pun jatuh dengan rasa sakit 1% dan rasa malu 99%.” Sudah..sudah...ini kan hanya permainan. Iya, ya..

PIC_0716

(Tim X-Olim terseret dan jatuh, “terpaksa” mengakui kehebatan X-3)

Setelah dipastikan kami tidak dapat melanjutkan perjuangan kami ke babak final, kami pun memutuskan beristirahat dan berfoto-foto ria.

PIC_0703PIC_0705

(Masih semangat untuk berfoto-foto ria)


Beberapa menit kemudian, seluruh peserta dan panitia rame-rame nonton filem di layar tancep bermodalkan LCD projector dan laptop. Layar tancepnya pun kira-kira sebesar baliho kampanye yang paling besar. Filemnya berjudul Lemony Snickets : A Series of Unfortunate Series. Menceritakan 2 orang anak yang ditinggal mati ortunya karena rumahnya kebakaran. Hak asuh pun jatuh kepada paman dan bibinya. Sepanjang cerita, paman dan bibinya mengalami kecelakaan hingga nyaris meninggal. Selama nonton filem, kami terasa nyaman dengan logistik yang sangat terpenuhi. Makanan yang dibawa sendiri pun direlakan untuk dimakan bersama. Bahkan, saking dinginnya, banyak diantara kami yang tertidur pulas beralaskan tikar. Setelah nonton filem, kami diberi instruksi oleh instruktur (yaitu tentara) mengenai persiapkan hiking besok.


SABTU, 1 AGUSTUS 2009. HARI KEDUA.

Untuk urusan mandi, para rombongan putra x-olim bangun pagi-pagi agar dapat kebagian air karena takut juga air di bak kehabisan. Setelah sholat subuh dan semuanya prepared well, kami mendapatkan kabar mengejutkan. Termos yang dibawa sang penulis yang dipinjamkan ke Gatya dan Dyan ini tiba-tiba saja meledak seperti bom atom (suaranya menggegerkan satu barak putri). Langsung kami rombongan putra meluncur ke barak putri untuk ke “TKP”. Para rombongan putri dengan perasaan bersalah yang bisa dibilang SANGAT BESAR, mereka mengatakan kepada sang penulis mengenai termosnya itu. dan tahukah engkau apa kata saya?

lupa siapa yang bilang : "dan, termosmu meleduk."

aku : " BUM ! " (dengan wajah yang polos !).

Semua teman-teman X-Olim hanya bisa melongo, mangap lebar. HAAAA????? Kok ngomongnya enak banget ya (tanpa ada ekspresi marah). Maklum, sang penulis ini masih agak ngantuk jadinya reflek. Spontan, perkataan saya mengenai “BUM” ini menjadi buah bibir dan “BUM” ini telah menjadi trademark saya secara tak sengaja hingga saat ini.

Setelah kejadian “BUM” yang sangat menggegerkan, saatnya kami semua melakukan persiapan hiking dan berkumpul di barak. Kami tidak langsung berangkat. Ternyata, ada cara tersendiri untuk menentukan urutan berangkat hiking yaitu dengan menjawab beberapa pertanyaan dan menunjukkan yel. Beberapa dari kami ada yang merasa tidak kuat kepanasan.

DSC04073

(Dengan setia menunggu)

Akhirnya, dengan perjuangan cukup panjang, berat, dan panas, kami berhasil membuat yel yang membuat orang kaget saat mendengar. Sedangkan, untuk urusan menjawab pertanyaan, kami harus antri dengan kelas lain. Yaris mendapat mandat untuk mewakili x-olim dalam urusan ini. Yah, akhirnya, Yaris bisa menjawab pertanyaan !

Setelah itu, kami pun memamerkan yel milik kami yang ternyata nadanya mirip denagn yel kelas lain Tidak apa-apa, saatnya berangkat.

DSC04076

(Perjalanan pun dimulai, Sang penulis, 2 dari kiri)

DSC04077
(Luthfi Hamid (Wono), tengah, dengan posenya di tengah kerumunan rombongan putri)

Saat hiking, kami mutar-muter kawasan Banyubiru. Menurut instruktur, jaraknya cuma 1 kilometer. Tapi nyatanya, menurut kami, sepertinya lebih dari 2 klio. Kami melewati 8 pos, tapi maaf hanya bisa saya ceritakan 3 pos saja karena jika diceritakan mungkin Anda akan capek membacanya. Panjang sekali. Selama perjalanan hiking, kami melewati sawah. Selama itu pula, kami menyalurkan bakat narsis kami (bahkan hinga harus berhenti di tengah jalan raya).

DSC04078

(Panorama alam yang menyejukkan mata)

DSC04090

(Berhenti di tengah jalan raya sesaat hanya untuk foto)

DSC04081

(Tas ransel menjadi andalan, tapi lama kelamaan pun membuat capek yang bawa).

Ada salah satu pos yang tampaknya menurut kami sesuai dengan bidang keahlian kami, yaitu melawak. Di sini, kami harus membuat pengampu lawan tertawa. Di tempat ini juga, kami menyiksa pengampu kami, Mas Ari, supaya tidak tertawa . Ekspresinya untuk menahan ketawa sepertinya tidak kuat (atau orang jawa mengatakan: diempet)

Kita juga harus membantu mas ari dengan ikutan tertawa ketawa. Tetapi, setelah itu tugas kami lebih berat. Mebuat mas fajar (pengampu lawan) tertawa. Seharusnya Nonog itu menyanyikan lagu "tak jebret" agar mas fajar tertawa. Kemudian, kami melewati pos yang tugasnya aneh tapi asyik.

DSC04117

(Irham berpose di bawah dempetan 8 orang)

DSC04115

(Bukan adegan film romantis lhooo..)


Sarung digelar di pinggir sawah kemudian 8 anak harus muat di situ dengan lipatan terkecil. Akhirnya, banyak kejadian yang “romantis” di sini. Hahaha ! Misalnya Irham menggendong Sita, dsb. Pos selanjutnya yaitu pos lempar-lemparan air. Banyak yang ingin mengikuti permainan di pos ini, karena cuaca saat itu panas sekali. Kelas X-olim mengajukan personelnya yaitu Isti, Nonog, Bun, Irham, dan Bela.

DSC04126

DSC04128

(Atas: Nonog memegang plastik berisi air sungai. Bawah: para peserta berjuang keras untuk mengalahkan lawan)

Yang jelas, endingnya kami menang dari X-aksel. Selesai hiking, kami kembali ke barak masing-masing. Setelah itu, beberapa anak putri ke barak putra mengajak mereka untuk latihan pensi. Yang putra datang ke barak putri, kemudian latihan menyanyi lagu Ingatlah Hari Ini dari Project Pop . Suaranya bisa dikatakan (cukup) merdu. Selain tu, kami juga menyanyikan lagu The Best Part of Writing Song is to Name It dan Majesty’s Secret Service dari SAL (Something About Lola). Pokoknya rame.

Setelah latihan, ada salah satu rekan kami mengusulkan untuk mermain keplok nyamuk dan cemong bedak. Dan voila.

Ya. Kami menghabiskan bedaknya Tia. Siapapun yang kalah akan dicemongin bedak oleh “algojo” bernama Safira dan SSM Putri. Sang penulis mendapatkan mandat untuk meliput acara ini. Saat itu, semuanya kena. Bahkan yang aslinya tidak kalah pun juga kena. Saking banyaknya yang tidak mau dicemongin, kedua “algojo” tersebut mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengejar mereka yang kalah. Tetapi, yang paling parah kena cemongan adapah Puput, Camelia (Londo) dan Ratri. Kami main kartu seperti orang gila. Teriak - teriak mulu ama kaget - kagetan. Siapa sih yang mau mukanya dicemongin ama anak sekelas ?! Saking jahatnya sang “algojo” , sandalnya Audi sampe copot. Dua-duanya pula. Tangannya Riska kesusuben rumput. Inilah misi sang “algojo” tadi untuk mewujudkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

[-a-u-d-i-]1228

(Rame-rame cemongin bedak)

[-a-u-d-i-]1235

(Suasana keplak nyamuk yang cukup menegangkan)

[-a-u-d-i-]1242

(HAHAHAHA ! Ini kuberi bedak...)

Walaupun Sapi dan Siti menjadi “algojo” pencemongan bedak, sang penulis menjadi juru foto, kita sendiri ngga bebas dengan begitu aja. Kita juga dicemongin bedak dengan jahatnya oleh teman - teman ! Putih semua! Udah gitu , kami maennya di depan teras yang notabene banyak orang melihat. Ada anak kelas lain, panitia KS 149, dsb. (Sangat) memalukan ! Mungkin dalam benak mereka berkata:” miris ! kaya ngga pernah make bedak ajaaaa !”


DSC04145

(Santai-santai setelah acara cemong bedak).


Setelah seru - seruan dan gila - gilaan mainan keplok nyamuk ama bedak, kami menyusun satu lagi rencana gila dan ajaib ! Ngerjain teman kesayangan kita, si Luthfi (Wonosobo) yang sedang tertidur pulas. Dengan rencana yang sistematis dan sangat rapi, kami sowan ke barak putra, tempat ia tidur. Waktu dia tidur, kejahatan kami dimulai ! Kita neplokin bedak ke pipinya dia sampe dia kebangun !

Dengan ekspresi setengah bingung dan ngantuk (nggak berwujud), dia hanya meratapi dirinya yang penuh dengan bedak. Selain si luthfi, kita juga mengusulkan teman kami yang bernama Bayu. Ia juga kita teplokin bedak. Haha, jadi putih semua. Setelah peneplokan sadis tersebut, kami foto – foto ria. Kemudian, dengan ekspresi innocent tanpa rasa bersalah, kami balik ke barak putri, meninggalkan Luthfi dalam keadaan bingung.

HALANG RINTANG

Kami balik ke barak buat persiapan halang rintang. Rombongan X-olim bersama Mas Ari merencanakan strategi halang rintang yang ada 6 sesi estafet. Sesi pertama, ada lomba make up. Untungnya, kita udah simulasi make up dengan neplokin bedak ke muka teman – teman. Wakil kami yang amat beruntung untuk mendapatkan kehormarmatan dimake - up dan memake - up adalah Gatya dan sang penulis. Komentar rekan-rekan setelah sang penulis dimake-up menjadi “cantik banget” oleh Gatya. Setelah make up, sesi selanjutnya BALAP KARUNG. Kami mengajukan Irham untuk mengikuti Ternyata, dia sanggup meerapkan perhitungan fisika dengan baik waktu lompat - lompat pas balap karung.

DSC00781

(Luthfi Hamid berlari menuju halang rintang)


Lalu, ada halang rintang yang modelnya nerobos - nerobos. Di situ, kami mengajukan si Luthfi dan ia pun lolos. Selanjutnya, ke rintangan kaki tiga. Puput, Sita, dan Nonog berhasil melaksanakan tugas dengan sangat sempurna.


DSC00780

(Nonog, Sita, dan Puput bersiap untuk sesi Kaki Tiga)


Berikutnya, Bun lari sprint 200 meter . Masya Allah, larinya seperti orang ngejar maling. Tetapi, tongkatnya jatuh waktu dia lari. Waduh?! Terakhir, mengikat botol memakai tali. Yaris, Bela, Isti, Bayu, Nisa, dan Verdy mendapat “kehormatan” di sini. Tugas berhasil dilaksanakan dengan baik dan hasilnya kami menang dari X-3, lawan kami saat acara tarik-tambang.

Review dari mas ari soal halang rintangnya : "Kurang cepet tadi. waktu kalian 5 menit 5 detik. yang paling cepet 5 menit."

HA? ! Hanya selisih 5 detik. Tak apalah. Setelah halang rintang !ishoma yang dilanjutkan dengan upacara. Upacara yang lagi - lagi heboh gara - gara anak X-Olim karena tertawa yang tidak jelas. Upacara ini merupakan upacara pelantikan pengurus Ambalan Soeringgit yang baru (2009-2010)

(bersambung lagi.......... :-) )

Read More 0 komentar | ditulis oleh Wong Kutho edit post
Desember 2009 Juli 2009 Halaman Muka

Catatan Si Ghamdan

  • Mengenai Penulis
      Lahir di semarang 15 tahun yang lalu. Kini, hidup di sebuah rumah yang sangat sederhana (rumah gubug). Lebih lanjut...
  • Arsip

    • ▼ 2009 (7)
      • ► Desember (2)
        • Si Ghamdan pun Naik BRT
        • Bernostalgia Melihat Website 'Jadul'
      • ▼ Oktober (2)
        • Ekspedisi Lawang Sewu Malam Hari
        • GPLB 2009, "BUM!"
      • ► Juli (1)
        • Catatan Akhir di SMP
      • ► Februari (1)
        • Facebook oh Facebook
      • ► Januari (1)
        • BBK
    • ► 2008 (48)
      • ► Desember (2)
        • Alamat: Rumah Sakit
        • Mengorbankan Estetika
      • ► November (1)
        • J-U-J-U-R di TBRS
      • ► Oktober (2)
        • Berjihad di Batavia
        • Open Door
      • ► September (2)
        • Terlanjur Beli Banyak
        • Purble Place-nya Mana?
      • ► Agustus (6)
        • Mesin Tik, Riwayatmu Kini
        • Kecuali Saya
        • Invasi Kodok
        • Tirakatan yang Meriah
        • Semarak Dirgahayu RI ke-63 di Espero
        • Adios Regghenamont
      • ► Juli (6)
        • Sugeng Rawuh ing Kitha Serabi
        • Never Ending Plesir
        • Jangan mendengar Kata Orang Lain yang Pesimis
        • Seberapa Miskinnya Kita
        • Merekam Kegiatan Dekstop
        • Web Messenger yang Hemat
      • ► Juni (3)
        • Hanya di Semarang
        • Menang......is
        • Angkot....Where Are You?
      • ► Mei (1)
        • LimeWire, Software ala Aladin
      • ► April (5)
        • Jadi Ruko
        • Informasi Anonim
        • Ada-ada Saja
        • Di Balik Foto
        • Unforgettable Memories
      • ► Maret (3)
        • Melayang
        • Lebih Baik Resepsi Duduk
        • Hanya karena Lolipop
      • ► Februari (7)
        • Carilah di Depo Arsip
        • Sinetron sebagai Cerminan Bangsa
        • Tanpa DVD drive, Segalanya jadi Repot
        • Beberapa hal tentang Windows Vista
        • Menghitung Kecepatan 14045
        • Dapet Uang Kembalian Permen
        • Selamat Jalan Pak Harto
      • ► Januari (10)
        • Lembur Kuring
        • Denah duduk 8g
        • 10 Besar di 8G Sangat Berharga
        • Mal apa Gudang Baju ya?
        • Selamat Tinggal Kolam Ikan
    • ► 2007 (17)
      • ► Desember (3)
      • ► November (1)
      • ► Oktober (2)
      • ► September (1)
      • ► Juli (1)
      • ► Mei (2)
      • ► April (6)
      • ► Januari (1)
    • ► 2006 (8)
      • ► Desember (1)
      • ► November (2)
      • ► September (1)
      • ► Juli (2)
      • ► Juni (1)
      • ► Mei (1)
  • Cari



  • ShoutMix chat widget




    • Home
    • Catatan Si Ghamdan on WP
    • Posts RSS
    • Comments RSS

    © Copyright Catatan Si Ghamdan. Semua hak cipta dilindungi
    Didesain oleh FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Ke atas